etua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kalteng, Arjoni.
PALANGKA RAYA, BATUAH.CO – Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Tengah dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan di lapangan. Pasalnya, armada pemadam pemerintah kesulitan menjangkau titik api di kawasan hutan dan lahan gambut yang jauh dari akses jalan.
Ketua Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kalteng, Arjoni, mengatakan pemerintah perlu menyesuaikan strategi penanganan karhutla dengan karakteristik wilayah Kalteng.
Menurut Arjoni, pemerintah juga perlu mempertimbangkan kondisi geografis dan lokasi titik kebakaran saat memberikan bantuan sarana pemadam. Sebab, kendaraan pemadam dari darat tidak dapat menjangkau seluruh kawasan yang terbakar.
“Armada pemadam ini sulit menjangkau kedalaman hutan dan juga gambut. Kita meminta pemerintah dalam memberikan bantuan harus mempertimbangkan kondisi lapangan,” ucapnya, Rabu (16/9/2026).
Selain persoalan jangkauan armada, Arjoni menyoroti dukungan anggaran untuk penanganan karhutla. Ia menyebut pemangkasan APBD Kalteng dari sekitar Rp12 triliun menjadi Rp5,3 triliun turut membatasi kemampuan daerah menjalankan program pencegahan dan penanggulangan karhutla.
Di sisi lain, para relawan tetap berada di garis depan untuk menangani kebakaran. Arjoni menyebut tiga relawan meninggal dunia saat menjalankan tugas pemadaman.
“Penanganan karhutla membutuhkan keberpihakan anggaran nyata, bukan sekadar janji manis di atas kertas. Pemerintah pusat belum menunjukkan keseriusan dalam menghentikan bencana tahunan ini. Para relawan berjuang bertaruh nyawa, sementara pusat membiarkan anggaran daerah terpangkas amat drastis,” tegasnya.
Lebih lanjut, Arjoni menyinggung kunjungan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Kalimantan Tengah beberapa waktu lalu. Ia menilai bantuan 100 unit mobil pemadam kebakaran ke sejumlah daerah belum sepenuhnya menjawab kebutuhan penanganan karhutla.
Menurut Arjoni, kendaraan pemadam dari darat menghadapi keterbatasan ketika titik kebakaran berada jauh di dalam kawasan hutan dan lahan gambut. Terlebih lagi, sejumlah lokasi tidak memiliki akses jalan maupun sumber air yang memadai.
Sementara itu, kabut asap akibat karhutla mulai menyelimuti sejumlah kawasan permukiman warga. Kondisi tersebut juga berpotensi mengganggu aktivitas dan kesehatan masyarakat.
Karena itu, Arjoni mendorong pemerintah memperkuat penanganan kebakaran di kawasan gambut. Selain mengerahkan pasukan dan armada darat, pemerintah perlu memperkuat operasi udara melalui water bombing serta modifikasi cuaca secara berkelanjutan.
“GP Ansor Kalteng menuntut pemerintah pusat segera mengalokasikan anggaran darurat bencana secara proporsional demi menyelamatkan lingkungan dan masyarakat di Kalteng. Negara wajib hadir secara utuh melalui aksi nyata yang terukur,” pungkasnya. (Red)
